Sabtu, 12 April 2014

Berwisata ke Pantai Pangandaran

cerita ini merupakan pengalaman saya, saya berlibur ke tasikmalaya dan mengunjungi pantai pangandaran 
Pantai pangandaran merupakan  merupakan sebuah objek wisata andalan Kabupaten 

Pangandaran (pemekaran dari Kabupaten Ciamis) yang terletak di sebelah tenggara Jawa Barat, tepatnya di Desa Pananjung, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat.
S
esampainya di sana saya bersama kelurga besar menginap d sebuah hotel, sesampainya di hotel kami beristirah terlebih dahulu, kemudian pada sore hari barulah kami sekeluarga berenang di pantai tersebut. Tak terasa waktu sudah sore dan kami memutuskan untuk kembali ke hotel.

Pada malam harinya kami sekelurga pergi untuk makan di pantai pangandan dengan menu seafood atau makanan – makanan laut. Saya dan keluarga berlinur di sana 3 hari. 

Sejarah Lagu Indonesia Raya

28 Oktober 1928 malam, di gedung Jl. Kramat Raya 106 Batavia, pemuda Wage Rudolf Supratman (9 Maret 1903 – 17 Agustus 1938) menyebarkan lirik konsep suatu lagu kepada hadirin di sana. Pada malam penutupan Kongres Pemoeda itu pada Desember 1928, Supratman dengan gesekan biolanya mengiringi sebarisan paduan suara, mengetengahkan lagu ciptaannya berjudulIndonesia Raja. Dua bulan kemudian ode (lagu pujian perjuangan) tersebut menjadi amat populer, terutama dipelopori anggota Kepanduan Bangsa Indonesia, sebab dalam lirik ode tersebut ada kalimat “jadi pandu ibuku”.

Supratman, putra Sersan KNIL Djoermeno Senen Sastrosoehardjo, di saat itu memang sudah dikenal sebagai komponis, serta wartawan dan penulis muda berbakat. Berkat pergaulannya cukup luas di kalangan kaum muda, hatinya tergerak untuk menciptakan ode itu, walau kemudian oleh beberapa pengamat, dikatakan lagu Indonesia Raya itu terpengaruh La Marseille – ciptaan Rouget de L’isle (1922).

Lagu ini di zaman Belanda sempat menghebohkan, tahun 1930 Indonesia Raja dilarang dinyanyikan umum, karena dianggap mengganggu ketertiban dan keamanan. Supratman diinterogasi dan ditanya mengapa memakai kata “merdeka, merdeka”. Dia menjawab kata-kata itu diubah pemuda lainnya, sebab lirik aslinya “moelia, moelia”. Protes pun berdatangan, sampai volksraad turun tangan. Akhirnya laguIndonesia Raya minus lirik “merdeka, merdeka” boleh dinyanyiakn, asal dalam ruangan tertutup!

Sejarah Komputer Generasi Pertama

Awal mulanya komputer pada generasi pertama ini adalah saat terjadi perang dunia kedua, negara-negara yang ikut terlibat dalam perang dunia itu berusaha mengembangkan komputer untuk memaksimalkan kemampuan dalam mengatur strategis yang dimiliki oleh komputer. Tahun 1941, seorang insinyur Jerman bernama Konrad Zuse membangun sebuah komputer, Z3, untuk mendisain pesawat terbang dan juga peluru kendali

Pada tahun 1943, pihak Inggris berhasil menyelesaikan sebuah komputer pemecah kode rahasia yang diberi namakan Colossus yang berfungsi untuk memecahkan kode rahasia yang digunakan oleh negara Jerman. Efek dari pembuatan Colossus sebenarnya tidak banyak mempengaruhi perkembangan industri komputer, hal itu bisa terjadi karena ada dua alasan yaitu ; yang pertama, colossus adalah bukan komputer serbaguna dalam bahasa inggrisnya “general purpose computer”, ia dibuat hanya agar bisa memecahkan kode rahasia. Yang kedua, keberadaan mesin ini dijaga kerahasiaannya hingga satu dekade setelah perang selesai.

Sedangkan di Amerika, Seorang insinyur Harvard yang bernama Howard H. Aiken (1900-1973) bekerja sama dengan IBM, berhasil menghasilkan kalkulator elektronik untuk US Navy. Kalkulator itu berukuran sangat besar, yaitu dengan panjang setengah lapangan sepak bola dan juga memiliki rentang kabel sepanjang 500 mil (besar sekali bukan). Komputer itu adalah ; The Harvd-IBM Automatic Sequence Controlled Calculator, atau Mark I, merupakan komputer relai elektronik. Mark I menggunakan sinyal elektromagnetik untuk menggerakkan komponen mekanik. Mark I beropreasi dengan lambat, ia memerlukan waktu 3-5 detik untuk setiap perhitungan dan tidak fleksibel yaitu urutan kalkulasinya tidak dapat diubah. Mark I tersebut dapat melakukan perhitungan aritmatik dasar dan persamaan yang lebih kompleks.

Perkembangan komputer lain pada masa itu adalah Electronic Numerical Integrator and Computer singkatannya adalah ENIAC, yang diciptakan berkat kerjasama antara pemerintah Amerika Serikat dan University of Pennsylvania. Perancang komputer ini adalah Jhon Presper Ekcert dan Jhon W Mauchly, komputer ENIAC terdiri dari 18.000 tabung vakum, 70.000 resistor, dan 5 juta titik solder, komputer ENIAC merupakan komputer yang sangat besar ia membutuhkan daya sebesar 160 KW.

Kemudian pada pertengahan tahun 1940-an, John von Neumann bergabung dengan tim University of Pennsylvania dalam usaha menciptakan konsep disain komputer yang sampai 40 tahun yang akan datang masih dapat digunakan dalam teknik komputer. Von Neumann mendesain Electronic Discrete Variable Automatic Computer [EDVAC] pada tahun 1945 dengan sebuah memori untuk menampung baik program ataupun data. Cara ini memungkinkan komputer dapat berhenti pada suatu saat dan kemudian melanjutkan pekerjaannya lagi. Kunci utama arsitektur von Neumann adalah unit pemrosesan sentral (CPU), yang memungkinkan seluruh fungsi komputer untuk dikoordinasikan melalui satu sumber tunggal. Pada tahun 1951, UNIVAC I atau kepanjangannya adalah Universal Automatic Computer I yang dibuat oleh Remington Rand, menjadi komputer komersial pertama yang memanfaatkan model arsitektur von Neumann itu.

Badan Sensus Amerika Serikat dan General Electric memiliki UNIVAC. Salah satu hasil yang sangat mengesankan yang dicapai oleh UNIVAC adalah pada saat berhasil memprediksi kemenangan Dwilight D. Eisenhower dalam pemilihan presiden pada Tahun 1952.

Komputer Generasi pertama ini dapat dikarakteristikan dengan fakta bahwa instruksi operasi dibuat secara spesifik untuk tugas tertentu. Setiap komputer memiliki program kode-biner yang berbeda yang disebut dengan “bahasa mesin” dalam bahasa inggrisnya adalah “machine language”. Hal ini menjadikan komputer sulit untuk diprogram dan membatasi kecepatannya. Ciri lain komputer generasi pertama adalah pemakaian tube vakum (yang menjadikan komputer pada masa itu tampak berukuran sangat besar) dan silinder magnetik yang berfungi untuk sebagai penyimpan data.


http://ceritatekno.blogspot.com/2012/10/sejarah-komputer-generasi-pertama_29.html#5PE5geR0cESC9brM.99

Selasa, 08 April 2014

Memaknai Kemenangan dan Kekalahan

Memberi arti baru dalam kemenangan dan kekalahan PEMILU 2009


Dalam kehidupan,manusia akan sering mengalami menang-kalah,jatuh-bangun,susah-senang dan berbagai kompleksitas-kompleksitas yang kadang tidak menyenangkan. Begitu juga dengan sebuah kontestasi politik. Tidak mungkin semua pihak yang bersaing bisa memperebutkan trofi juara. Yang susah sekali kita terima dan seharusnya kita sadari bahwa pemenang dalam sebuah pertandingan hanyalah satu dan tidak mungkin semua. Hal ini pulalah yang sekarang hangat diperbincangkan di ruang publik menyoal rekapitulasi perhitungan hasil pemilu presiden 2009. Pihak yang merasa dirugikan karena adanya dugaan kecurangan tidak mau mengakui hasil pemilu dengan menolak menandatangani berita acara. Ada apa dengan deklarasi siap menang,siap kalah yang dilontarkan pasangan capres-cawapres pada debat yang diselenggakan KPU beberapa waktu lalu ?

Sebuah pertandingan akan membawa kedamaian bagi semua pihak jika diselenggarakan dengan adil,jujur dan transparan bagi setiap peserta.Kita masih ingat pada pemilu AS kemarin bagaimana Joe Biden dengan ksatria mengakui kekalahannya. Sedangkan di dalam negeri,pada pilkada Jakarta,pasangan Adang-Dani memberi ucapan selamat pada lawan politiknya.Bisa dimaklumi ketika kekalahan lewat cara yang adil memberi efek psikologis berbeda dibandingkan dengan kekalahan dengan cara-cara yang diskriminatif dan tidak adil. Setiap orang yang diperlakukan tidak adil pasti akan berontak, karena sebagai manusia,dirinya merasa diperlakukan sewenang-wenang. Protes selalu hadir dalam situasi dimana keadilan absen,sedangkan institusi yang ada tidak mampu memecahkan persoalan yang ada.

Harus bersama-sama kita akui bahwa pelaksanaan pemilu 2009 sangat jauh dari harapan kita. Dimulai dari masalah-masalah teknis yang dihadapi KPU,masalah DPT,ketidaktranparanan. Senada dengan kinerja KPU yang dinilai buruk,Badan Pengawas Pemilu pun tak ketinggalan memberi nilai lima pada penyelenggara pemilu ini. Alias nilai merah. Adapun dasar pertimbangan Bawaslu adalah ketidakterbukaan KPU terkait dengan DPT,kerjasama KPU dengan IFES serta Telkomsel terkait perhitungan suara dan banyaknya protes-protes yang terakumulasi dalam rekapitulasi. Sebuah kebohongan besar jika ada pihak yang bilang proses pemilu kemaren berjalan dengan baik tanpa cacat.

Terkait dengan penolakan dua pasangan capres yang menolak menandatangani hasil rekapitulasi,bukan bicara sah atau tidak sah. Penolakan tersebut adalah cermin adanya duri dalam daging dalam proses pemilu presiden kemarin. Kemenangan yang cantik dan elegan apabila semua pihak merasa bahwa usaha yang dilakukan telah maksimal dan merasa keadilan juga hadir dalam kontestasi.Dua pasangan yang kalah protes bukan karena kekalahan itu sendiri. Melainkan ada proses demokrasi yang tercederai dan tidak bisa dibiarkan begitu saja.Kita tidak boleh membiasakan diri bergaul akrab dengan kecurangan. Nada protes pun bukanlah gangguan,jika yang diprotes adalah penyimpangan dari kebenaran. Protes kemudian seringkali dituduh sebagai pihak yang tidak legowo menerima kekalahan. Memang tidak salah berpikir begitu,namun kali ini kita harus bisa jujur melihat konteksnya. Bahwa semua pihak dan bahkan KPU sendiri mengakui adanya ketidakberesan dalam penyelenggaran pemilu. Dan,bola panas pun tidak ada yang berani memegangnya dengan ksatria sampai hasil akhir rekapitulasi diumumkan.

Setiap orang mengejar kemenangan.Menang adalah simbol kekuatan,prestasi,harga diri,keunggulan,prestise dan berbagai simbol-simbol sosial lainnya. Kemilau kemenangan membuat kekalahan kemudian menjadi makna yang berarti penderitaan,malu,rendah diri,tidak berkualitas. Padahal kekalahan tidak selamanya bermakna seperti itu. Bahkan ada sebuah kata-kata bijak yang mengatakan “seorang pemenang bukanlah orang yang tidak pernah kalah,melainkan orang yang dalam setiap kekalahan mampu tegak berdiri dengan lantang”. Artinya,kekalahan bukanlah akhir dari segalanya. Dekonstruksi makna kekalahan harus kita hembuskan terus menerus sehingga kekalahan dianggap menjadi hal yang kurang lebih sama dengan kemenangan.


Dalam kasus pemilu 2009,jika pun dikatakan sebagai pihak yang kalah. Namun,protes terhadap kecurangan harus tetap dilakukan. Kita serahkan kepada proses hukum yang berlaku dengan otak panas namun hati tetap dingin. Jangan sampai dugaan kecurangan menjadi tafsir untuk melegalkan anarkisme.Negara harus mengakomodir kepentingan pasangan capres yang belum beruntung.Jika keputusan hukum mengatakan lain dari keinginan pasangan yang tidak puas,maka kita sudah berusaha maksimal. Kita harus hormati proses hukum. Namun,jika hasilnya sejalan dengan tuntutan, juga harus dihormati. Artinya,hukum tidak boleh absen,apalagi berpihak. Hukum harus berani tampil ke depan dan memutuskan dengan seimbang. Jika hukum tidak mampu,apa kita mau hukum milik kami,dia,mereka,kalian,aku yang kemudian mewarnai demokrasi kita .

http://gmni-sumedang.blogspot.com/2009/07/memberi-arti-baru-pada-kekalahan.html